Pendaftaran Siswa baru 2010
Mimpi yang Menakutkan dan Susah Tidur
Sebab-sebab terjadinya mimpi yang menyeramkan :

- Peristiwa yang terjadi pada siang harinya dan pengaruh-pengaruhnya, baik yang berupa sesuatu yang dilihat, didengar atau dibaca, khususnya film kartun, film seri, film yang penuh dengan kekerasan dan pembunuhan.
- Penyakit fisik.
- Gangguan perut.
- Sebab-sebab lingkungan, yang berhubungan dengan kamar anak dan yang ada di dalamnya seperti patung-patung, atau bahkan orang yang tidur bersamanya.
- Peristiwa hebat, yang tidak hilang dari ingatan anak, seperti kebakaran, kematian orang yang dicintainya, bencana atau pemandangan yang menakutkan.
- Tegangnya saraf anak karena ditakuti dengan sesuatu atau diancam dengan hukuman yang berat.
Penyembuhan :
- Hendaknya pengetahuan yang diberikan kepada anak sesuai dengan akal dan kejiwaannya, dari segi jenis pengetahuan tersebut dan cara penyampaiannya.
- Mengajari anak dengan ruqyah syar’iyah agar diperguna-kan untuk mendoakan dirinya sendiri sebelum tidur, yaitu dengan membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq dan surat An-Naas di kedua permukaan telapak tangannya kemudian mengusapkan keduanya pada seluruh tubuhnya, dikerjakan sebanyak tiga kali, secara bertahap.
- Segera menghidangkan makan malam dan menghin-darkan makanan yang keras dan susah dicerna perut.
- Membuang sesuatu yang bisa mempengaruhi pendengaran dan penglihatan dari kamar anak, dan menerangi kamarnya dengan cahaya meski tidak terlalu terang.
- Meminta saran-saran dari psikiater.
- Membacakan cerita-cerita yang mendidik, tenang dan indah sebelum tidur.
- Kedua orang tua hendaknya membiasakan anak untuk mendengar bacaan Al-Qur’an (dari kaset misalnya) sebelum tidurnya. Ini -terbukti dari pengalaman- bisa menjadikan tidurnya tenang dan jauh dari kegelisahan, insya Allah ta’ala.
oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman
Hilangnya Nafsu Makan
Sebab-sebabnya :
- Sebab-sebab organ fisik.
- Mengkonsumsi makanan yang manis sebelum makan.
- Orang dewasa yang tidak teratur dalam makan.
- Banyaknya perintah dan peringatan yang menegangkan dari kedua orang tua, atau laporan Ibu atas perilaku anaknya kepada ayahnya, khususnya pada waktu makan.
- Kurangnya gerak badan dan kegiatan olah raga serta main.
- Perhatian yang berlebihan dari kedua orang tua dan menunjukkan kegusaran kepada anak kadang membuatnya menjadi keras kepala dan kehilangan nafsu makan.
- Makanan yang dikonsumsi anak tidak memenuhi kebutuhan tubuhnya kepada vitamin atau zat yang dibutuhkan untuk menumbuhkan nafsu makannya.
Penyembuhan :
- Memeriksakan anak secara fisik kepada dokter.
- Tidak mengkonsumsi makanan yang manis sebelum makan.
- Diusahakan agar anak makan dalam keadaan senang hati, tenang, tanpa memisahkannya dengan mainannya serta tanpa adanya tanda ketidaksenangannya dalam wajahnya karena meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya.
- Tidak memaksakannya menyukai makanan tertentu atau makanan secara umum.
- Menepati jadwal makan dan ada variasi dalam makanan.
- Memberikan kebebasan kepadanya untuk sesekali makan sendiri, meski dengan menggelar tikar di bawahnya untuk menjaga kebersihan lantai rumah, jika ia menginginkan makan di tempat tertentu dalam rumah.
- Memberikan kesempatan bagi anak untuk makan bersama anak-anak seusianya, karena makan bersama itu meningkatkan nafsu makannya.
- Tidak menunjukkan sikap tidak senang ketika anak tidak menyelesaikan makannya.
- Memberi kesempatan bagi anak untuk membantu dalam membeli makanan atau dalam menyiapkan makanan.
- Memberikan kesempatan bagi anak untuk bermain, bersenang-senang dan melakukan kegiatan fisiknya.
- Hendaknya ibu mengajak anak untuk makan dan membuatnya senang dengan makanan tersebut dengan harapan agar menjadi pahlawan muslim yang kuat (dan menceritakan kepadanya tentang kisah pahlawan muslim).
- Meletakkan sebagian makanan (yang terjaga dengan baik) dekat dengan tempat mainnya.
Kebiasaan Mencuri
Sebab-sebabnya :
- Kecenderungan untuk memiliki dan menikmati sesuatu dengan paksa, dan keinginan memenuhi hobbynya, seperti mengendarai sepeda, membeli mainan dan lain sebagainya.
- Adanya kebutuhan dan kebutuhan yang mendesak.
- Pelampiasan untuk melepaskan diri dari kesulitan tertentu.
- Untuk menampakkan di depan teman-temannya bahwa ia dari keluarga kaya, sehingga bisa diterima di kalangan teman-temanya.
- Membalas dendam kepada orang yang barangnya dicurinya dan tidak adanya rasa kasihan kepadanya.
- Merasakan adanya kekurangan, perubahan yang men-dadak dalam hubungan dengan lainnya atau karena hubungan keluarganya berantakan (broken home).
- Persahabatan yang tidak baik, atau dia berada dalam kekuasaan teman yang suka berbuat jahat.
- Pendidikan dari kedua orang tuanya dan berlebih-lebihan dalam menyimpan sesuatu yang dikhawatirkan anaknya akan (mendapatkannya), justru akan membuat anak berusaha untuk mendapatkannya.
- Ketidakpahamannya terhadap perbedaan antara haknya dan hak orang lain. Dan menyangka ini bukan pencurian.
Penanggulangan :
- Mendidik anak dengan baik agar taat kepada Allah Ta’ala, beriman dan takut kepada-Nya, juga mengajarinya menghafal Al-Qur’an.
- Memberi pemahaman kepadanya tentang perbedaan antara haknya dan hak orang lain, dan mengajarinya tata cara meminta izin secara Islami.
- Membuat tempat khusus bagi anak, seperti laci kecil misalnya, sebagai tempat barang-barangnya, dengan tujuan untuk menumbuhkan perasaan memiliki dan percaya diri.
- Hendaknya anak diberi uang jajan tetap (pada umur tertentu).
- Menyayangi dan mempergauli anak tanpa memanjakannya.
- Menceritakan kepadanya sebuah cerita tentang akibat pencurian dan tempat kembali mereka (yaitu Neraka.Pent.).
Tidak Percaya Diri
Gejala-gejalanya :
- Susah berbicara, gagap dan gagu.
- Menutup diri, rasa malu dan tidak berani.
- Ketidakmampuan berfikir secara mandiri.
- Merasakan ada kejahatan dan bahaya serta bertambah-nya rasa ketakutan dan kekhawatiran.
Sebab-sebabnya :
- Cara mendidik yang salah dan berdasar pada ancaman, kekerasan dan pemukulan setiap kali anak berbuat kesa-lahan atau main-main sesuatu.
- Sering disalahkan, dipukul, diancam, dicela dan direndahkan.
- Orang tua terlalu membatasi setiap perilaku anak dan cara berfikirnya.
- Selalu dibandingkan dengan anak yang lain untuk mem-berinya motivasi, terkadang justru memberikan pengaruh yang sebaliknya.
- Meremehkan kemampuan dan harga dirinya serta mele-mahkan minatnya.
- Bentuk badannya yang kecil, tubuhnya yang cacat seperti pincang, buntung dan sebagainya.
- Rendahnya IQ dan keterlambatan dalam belajar.
- Selalu mencelanya ketia ia mengalami kegagalan.
- Banyaknya pertengkaran antara kedua orang tuanya.
- Dibebani pekerjaan yang di luar kemampuannya dan bakatnya sehingga ia tidak mampu dan gagal.
Cara penyembuhan :
- Menunjukkan rasa kasih sayang, khususnya dari kedua orang tua.
- Membiarkan anak memilih sendiri makanan, minuman dan permainannya.
- Memotivasi anak dan meningkatkan kemampuannya serta memujinya dengan berbagai cara.
- Ketika dibandingkan dengan anak lain, hendaknya disebutkan pula kebaikannya di samping anak yang dibandingkan dengannya serta menyebutkan kemampuan keduanya, kemudian menyuruh untuk berbuat sebagai-mana yang telah dilakukan yang lain agar menjadi lebih baik darinya.
- Orang tua hendaknya tidak saling mengoreksi di hadapan anak-anak, tidak saling mencela atau berselisih di hadapan mereka.
- Menyebutkan namanya pada pertemuan-pertemuan, memujinya di depan orang-orang dewasa dan tidak menyebutkan kekurangannya di hadapan mereka maupun anak-anak kecil.
- Menggunakan cerita-cerita dan permainan untuk menyembuhkan penyakit tidak percaya dirinya juga dengan bermain drama dengan tujuan menyiapkannya dan mengajarinya berinteraksi dengan benar.
- Teladan dari kedua orang tua dalam hal percaya diri dan tidak bimbang.
- Membawanya dalam kumpulan orang-orang dewasa, dan membuatnya mau berbicara tentang kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an, hadits, cerita-cerita dan lain-lain.
- Menyuruhnya membeli beberapa keperluan dari toko dan memberinya tanggung jawab yang kecil.
- Mendengarkan dengan baik ketika anak berbicara dan tidak meremehkannya.
- Menemaninya dalam menyelesaikan permasalahannya yang kecil dan dalam memilih kebutuhan pribadinya, seperti memilih mainan, pakaian dan lain sebagainya.
- Membiasakannya berpuasa meski hanya beberapa jam saja, dan memujinya apabila ia melakukannya.
- Mencontoh masa kecil Rasulullah saw dan mengajarkan kepadanya tentang masa kecil Rasulullah saw .
- Memperdalam kepercayaan tentang takdir dalam hatinya dan menghubungkan segala sesuatu dengan Allah Ta’ala.
Perilaku Menyimpang pada Anak
Wahai para pendidik,
Sekarang Anda akan mempelajari tentang perilaku menyimpang yang biasa terjadi pada diri anak-anak, dan cara-cara penanggulangannya. Anda hendaknya menyadari bahwa perilaku menyimpang pada anak adalah sesuatu yang biasa dalam dunia anak, maka hendaklah Anda tidak kaget. Jika Anda bisa menanggulangi perilaku tersebut dengan baik, maka buah yang Anda peroleh pun akan baik. Jika tidak, maka anak Anda akan tumbuh dan besar dengan membawa perilaku tersebut beserta beberapa perilaku menyimpang lainnya.
Janganlah Anda meremehkan hal yang kecil
Sesungguhnya gunung itu terdiri dari kerikil
Berdoalah dalam hati Anda yang paling dalam,
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan : 74).
Pendidikan Antara Sarana dan Tujuan
Pendidikan Antara Sarana dan Tujuan
Tujuan Pendidikan Anak ( TPA )
Menjawab seruan Allah :Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka
Sarana yg Membantu & Sarana Pendidikan ( SMSP )
Setiap sarana yang akan kita sebutkan nanti dan beberapa sarana lain.
TPA
Membentuk akidah dan keimanan anak-anak
SMSP
- Membacakan lafadz لا إله إلا الله dan mengulang-ulangnya.
- Memperdalam muraqabah Allah Ta’aladalam hatinya: “Jagalah (perintah) Allah niscaya Allah akan menjagamu.” Dengan sering-sering mengucapkan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala melihatmu, mendengarmu dan Dia bersamamu.”
Juga dengan senantiasa membaca Al-Qur’an dan doa-doa. - Memperdalam kecintaannya kepada Rasulullah SAW dalam hati dengan melaksanakan sunnahnya dan mengikutinya.
- Memberikan hadiah kepada anak-anak pada saat tertentu, seperti hadiah atas hafalan Al-Qur’an dan bacaan doa-doa yang terus menerus.
TPA
Membentuk keilmuan dan pengetahuan anak
SMSP
- Dengan mengajarinya Al-Qur’an dan sunnah.
- Belajar sejarah Nabi, akhlak dan perilaku.
- Dengan mengajarinya doa-doa.
- Menyediakan perpustakaan rumah bagi anak, terdiri dari buku-buku, kaset-kaset dan video (yang bermanfaat).
- Mengirimnya ke taman kanak-kanak untuk belajar.
- Mengikutkannya dalam halaqah hafalan Al-Qur’an di masjid, atau mendatangkan orang yang mengajarinya hafalan Al-Qur’an dan mengajarinya sunnah.
- Menjawab segala pertanyaan anak-anak dengan jawaban yang sesuai dengan usianya.
- Memperhatikan cerita-cerita yang mendidik dan menghindari kecenderungannya yang mutlak kepada daya khayal, dengan tetap menyadari pentingnya daya khayal.
- Tidak memaksanya untuk menulis atau membaca sebelum masanya, dengan tetap melihat pentingnya latihan untuk membaca dan menulis dengan bertahap.
TPA
Membentuk akhlak, perilaku dan sopan santun anak-anak
SMSP
- Mempraktekkan adab-adab yang telah dipelajarinya.
- Dengan teladan dari kedua orang tua.
- Mempergunakan kata-kata yang baik di depannya, khususnya ketika sedang marah.
- Menepati segala apa yang telah dijanjikan kepadanya.
- Memberi permisalan dengan cerita-cerita nyata sebagai teladan yang baik baginya.
TPA
Membentuk sisi sosial anak-anak
SMSP
- Membawanya ke dalam pertemuan orang-orang besar.
- Menunjukkan apa yang telah dipelajarinya di depan orang-orang besar untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.
- Membiasakannya mengucapkan salam ketika keluar dan masuk ruangan.
- Membiasakannya meminta izin dalam segala hal.
- Mendidiknya untuk turut membantu pekerjaan di rumah.
- Membiasakannya untuk jual beli (apabila diperbolehkan) dan membiasakannya untuk berani yang sopan.
- Mendatangi sanak famili dan berdiam bersama mereka sampai saat yang cukup.
- Memelihara hewan-hewan yang jinak, burung-burung atau ikan yang memungkinkan bagi anak untuk bergaul dengannya.
- Mengajaknya ke masjid setiap saat untuk menjadikannya menyukainya, terikat dengannya dan melihat orang-orang asing selain kedua orang tuanya.
- Memilihkan teman yang baik dari lingkungannya atau dari kalangan sekitarnya.
TPA
Membangun sisi kejiwaan dan perasaan anak-anak
SMSP
- Mengenali kejiwaan anak dan kebutuhannya pada tiap fase.
- Menghargai anak dan tidak merendahkannya, khususnya di hadapan teman-temannya atau teman-teman Anda.
- Mendengarkannya dengan baik apabila dia berbicara dan membuatnya merasa bahwa yang dibicarakannya adalah hal penting.
- Memberi pengarahan kepadanya dengan lemah lembut, dan diutamakan dilakukan ketika sendiri.
- Menemaninya dalam permainan dan duduk bersamanya.
- Menyambut kedatangannya dan melepas kepergiannya dengan baik, dan membiasakannya hal yang demikian tersebut.
- Berusaha menyenangkan anak, khususnya sebelum tidur, dan menjauhkannya dari kejadian-kejadian dan suara-suara yang menakutkan.
- Menyadari bahaya memberikan hukuman fisik secara terus menerus.
- Menyadari bahaya memberikan ancaman dengan hukuman terus menerus.
TPA
Membentuk fisik dan kesehatan tubuh anak-anak
SMSP
- Membiasakannya melakukan senam badan yang ringan.
- Menjemurnya di sinar matahari setiap hari.
- Mengadakan perlombaan olah raga bagi anak-anak.
- Bermain bersama orang-orang dewasa.
- Menjauhkan mereka dari penyakit yang menular.
- Mengadakan check up secara berkala, khususnya untuk giginya.
- Membiasakannya membersihkan gigi, pakaiannya dan tempat tidurnya.
- Mempraktekkan ruqyah syar’iyah (doa’doa yang syar’i) sebelum tidur dan ketika sakit (dengan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas).
TPA
Membentuk rasa seni, keindahan dan kreatifitas anak-anak
SMSP
- Mendidiknya untuk memperindah kamarnya dan menghiasinya.
- Memperhatikan keindahan alat-alat yang khusus untuknya.
- Menyediakan pena berwarna dan buku gambar, dan membiarkannya membuat apa yang dia inginkan, dengan pengawasan dari kedua orang tuanya.
- Menyediakan permainan yang berupa permainan mengacak dan menyusunnya kembali, atau membongkar dan membangunnya kembali.
- Menggunakan film video yang menggambarkan keindahan pemandangan alam.
- Pergi ke taman-taman, pantai dan lainnya dan membiasakannya memikir dan memperhatikan (dalam bentuk sederhana).
- Menjaga segala hasil karya seni anak-anak di map khusus, kotak khusus atau buku tulis dan tidak menyia-nyiakannya.
Metode Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah
oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman
Ngompol
Jenis-jenisnya :
- Ngompol siang hari dalam keadaan sadar.
- Ngompol malam hari dalam keadaan tidur.
- Ngompol yang terlambat (untuk disadari).
Sebab-sebabnya :
A. Sebab-sebab fisik : Perlu konsultasi dengan dokter spesialis.
B. Sebab-sebab kejiwaan :
- Kelabilan kejiwaan anak yang bermula dari kelabilan keluarga.
- Anak merasa tidak mendapat perhatian keluarga, rasa aman dan ketentraman dalam keluarganya.
- Terlalu tegang dan memberi hukuman yang berlebihan kepada anak yang mempersulit masalah.
- Perasaan anak yang senantiasa merasa takut, kegon-cangan dan hilangnya kepercayaan terhadap orang di sekelilingnya.
- Perasaan cemburu terhadap yang lain atau dengki terhadap orang lain.
- Meninggalkan anak sendirian dalam jangka waktu yang lama, atau perasaan takutnya kepada sesuatu seperti kegelapan dan sebagainya.
Penyembuhan :
- Menempatkan anak pada hubungan keluarga yang tenteram.
- Mempergauli anak dengan kasih sayang dan perhatian yang baik.
- Menjauhkan dari rasa tegang dan jiwa yang tertekan sehingga tidak bertambah lagi permasalahannya.
- Menggunakan cara-cara penghargaan dan motivasi agar anak menjadi percaya diri.
- Menghindari celaan di depan orang lain, khususnya di depan teman-temannya yang lebih muda darinya.
- Mengusahakan pengobatan secara medis.
- Tidak membebani anak dengan pekerjaan yang melebihi tingkat kemampuannya, sehingga tidak gagal dan hilang rasa percaya dirinya.
- Tidak meninggalkannya sendirian, dan menyalakan lampu dengan cahaya yang terang jika menginginkannya.
- Membiasakan anak untuk kencing terlebih dahulu sebelum tidur.
- Menghindari memberinya minuman yang banyak sebelum tidur.
- Memberi lampu yang cukup pada jalan yang menuju kamar mandi pada malam hari sehingga anak tidak merasa takut untuk pergi sendirian ke kamar mandi bila ia menginginkannya.
- Berusaha membangunkannya pada malam hari untuk kencing.
oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman
Kebiasaan Merusak
Sebab-sebabnya:
- Ingin tahu, atau ingin melepas dan merakit kembali (untuk menambah pengetahuan).
- Faktor-faktor emosional yang terpendam, seperti cemburu, kebencian kepada kekuasaan yang membatasinya yang tidak masuk akal baginya, merasa ada kekurangan, keinginan untuk balas dendam, pergaulan buruk yang didapatkannya dari rumah dan sebagainya (berontak terhadap lingkungan).
- Bertambahnya kegiatan fisik anak dan ketidakseimbangannya dengan perkembangan akalnya.
Penanggulangannya :
- Berusaha menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan dia memberontak, balas dendam dan sikap emosionalnya, jika faktor-faktor tersebut merupakan sebab-sebabnya.
- Mengarahkan keinginan anak untuk mengetahui, membongkar dan menyusun sesuatu (jika kecenderungan untuk mengetahui adalah sebabnya) dan memperbanyak mainan yang sesuai dengannya.
- Menyibukkan anak dengan perbuatan yang lebih banyak menggunakan anggota tubuhnya daripada menggunakan akalnya (jika sebab-sebabnya adalah bertambahnya kegiatan fisiknya).
- Kedua orang tua hendaknya tidak menghalangi kesukaan dan minatnya sehingga keingintahuannya dan kepercayaan pada dirinya tidak tertekan.
- Mengajak anak ke alam bebas, seperti taman dan lain-lain akan memberikan pengaruh yang besar dalam membangun kepribadiannya.
Pesan-pesan Khusus dalam Bermain :
- Hendaknya membiasakan anak bermain sendiri sehingga ia terbiasa main sendiri apabila tidak menemukan teman untuk bermain bersama.
- Hendaknya membelikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Permainan yang lebih banyak tantangan, sampai pada batas tertentu terkadang lebih menyenangkan baginya.
- Jangan membiarkan mainan senantiasa di hadapan anak, sehingga dia tidak bosan terhadap mainan-mainan tersebut.
- Tidak perlu membelikan mainan yang mahal. Mainan yang murah kadang lebih besar manfaatnya.
- Sediakan lemari atau kotak khusus untuk tempat mainan anak.
- Berikan kamar khusus atau tempat khusus untuk anak-anak dan biasakan mereka menggunakan tempat tersebut hanya untuk bermain dengan mainan mereka.
- Usahakan untuk selalu menggunakan benda yang aman untuk mainan anak-anak, dan mengajaknya keluar untuk rekreasi ke taman atau tempat-tempat yang indah meski hanya sekali dalam seminggu.
- Usahakan menggunakan sarana yang menggabungkan antara manfaat dan kesenangan bagi anak, seperti komputer, video dan sebagainya.
- Bermain bersama kedua orang tua atau salah satu dari keduanya merupakan kegembiraan yang besar bagi anak dan sangat bermanfaat bagi mereka. Oleh karena itu usahakan melakukannya meski hanya sekali dalam seminggu, dan jadikan pula permainan ini sebagai sarana untuk targhib (memotivasi dengan hal yang menyenang-kan) dan tarhib (memotivasi dengan hal yang tidak disenanginya).
Mainan dan pengaruhnya dalam pendidikan :Permainan mempunyai banyak manfaat dan hasil, di antaranya :
- Meredam ketegangan emosional dan jasmani bagi anak-anak dan membatasi jiwa permusuhan yang ada pada dirinya.
- Meningkatkan keaktifan dan memperbaharui kehidupan anak.
- Memberikan kesempatan bagi anak untuk mempergu-nakan akalnya, panca inderanya dan keinginan untuk bereksperimen.
- Membantu dalam pembentukan akhlak anak, apalagi dalam permainan kolektif.
- Permainan mempunyai andil dalam perkembangan ber-bagai macam anggota tubuh anak.
- Merupakan pelampiasan kekuatannya yang berlebihan dan pelampiasan dari keinginannya yang terkekang.
- Permainan merupakan persiapan dan latihan alami untuk menghadapi fase selanjutnya yang akan dihadapinya oleh anak dalam praktek kehidupan.
- Dengan permainan seorang anak belajar untuk saling tolong menolong (menumbuhkan kemampuan bersosialisasi).
- Menjadikan anak tenang pada malam hari dan tidur dengan tenang, karena permainan telah menghabiskan tenaganya.
Suka Melawan
Pengertiannya :
Merupakan suatu fase alami dalam masa pertumbuhan kejiwaan anak yang membantunya pada stabilitas dan menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa. Dengan berlalunya waktu, dia akan menyadari bahwa keras kepala dan melawan bukanlah cara yang benar, sedang kebiasaan bermasyarakat dalam memberi dan menerima adalah jalan yang benar, khususnya jika kedua orang tuanya mempergaulinya dengan fleksibel, lemah lembut dan pengertian.
Sebab-sebabnya :
- Meniru perbuatan kedua orang tuanya.
- Membiasakannya taat dan fanatik kepada sesuatu.
- Ketiadaan ikatan yang kuat dalam pengertian antara anak dan kedua orang tuanya.
- Memanjakannya secara berlebihan dan memberikan segala yang diinginkannya.
Penanggulangan :
- Kedua orang tua hendaknya menjelaskan kepadanya faedah apa yang diperintahkan kepadanya dan membuat-nya puas dengan keterangan tersebut.
- Bersikap fleksibel, memberi dan menerima dengan tenang, menyayanginya dan lemah lembut dengannya.
- Menggembirakan anak kemudian menjelaskan dan menerangkan bahwa keduanya menyukainya.
- Seimbang dalam mendidik anak, tidak terlalu keras juga tidak terlalu memanjakannya.
- Selalu berusaha menarik perhatian anak setiap kali akan menyuruhnya.
- Menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh anak dengan kelambatan yang cukup untuk bisa dipahami olehnya.
- Menghindari untuk memberikan banyak perintah dalam satu waktu sekaligus.
- Menghindari untuk memberikan perintah kepadanya pada saat tertentu kemudian segera melarangnya beberapa saat kemudian.
- Memberikan hadiah dan ganjaran atas ketaatannya.
- Menghindari hukuman fisik atau ancaman sebagai sarana untuk meluruskan kesalahannya.
- Memperhatikan setiap pelaksanaan perintah.
Perasaan Takut
Takut pada anak-anak , ada dua macam :
- Takut kepada benda-benda nyata, seperti takut kepada anjing, kuda atau tempat-tempat yang tinggi, tentara dan sebagainya.
- Takut kepada benda-benda yang tidak nyata, seperti takut kepada kegelapan, kematian, hantu-hantu dan sebagainya.
Sebab-sebabnya :
- Ketidakmengertiannya terhadap hakikat sesuatu.
- Adanya keanehan bentuk tubuh padanya.
- Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan.
- Kelahiran adik baru dan hilangnya perhatian terhadapnya.
- Memaksa anak untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak disukainya.
- Menjadikan anak sebagai bahan olok-olokan, tidak memperhatikannya dan mencampakkannya.
- Menakutinya dengan sesuatu yang menyakitkan -dalam benaknya- seperti suntikan, dokter, polisi dan sebagainya.
- (Meniru) ketakutan orang tua terhadap sesuatu tertentu, seperti takut kepada tikus, tempat gelap dan sebagainya.
- Pertengkaran antara orang-orang besar, khususnya kedua orang tuanya, dan banyaknya permasalahan antara mereka.
Penyembuhan :
- Menentukan sebab-sebab ketakutannya dan sumbernya terlebih dahulu.
- Menerangkan sesuatu yang aneh dan tidak dimengerti oleh anak dan tidak merasa keberatan terhadap pertanyaan-pertanyaannya yang banyak serta memahamkannya sesuai dengan pemahamannya.
- Mengkaitkan antara sesuatu yang ditakutinya dengan sesuatu yang disenanginya, misalnya, polisi itu tugasnya adalah menjaga keamanan dan melarang pencurian, kegelapan itu agar supaya kita bisa tidur dan istirahat dan sebagainya.
- Menjauhkan anak dari suasana yang menegangkan, seperti kematian kerabat yang di dalamnya terdapat tangisan, jeritan dan sebagainya.
- Menerangi rumah dengan sinar yang terang jika dibutuhkan.
- Menceritakan kisah-kisah yang bagus dan tidak menakutkan sebelum tidur.
- Menceritakan tentang peperangan yang diikuti Rasulullah n dan kisah heroik para salaf shalih , dengan ungkapan yang sederhana.
- Tidak memaksa anak untuk melakukan perbuatan atau menempatkannya pada sesuatu yang dia takuti, tapi hendaknya dilakukan dengan ditemani atau dengan sedikit demi sedikit.
- Memisahkan anak sedikit demi sedikit dari kedua orang tuanya, tidak dengan tiba-tiba, untuk tidur sendiri (meski masih dalam kamar yang sama, meskipun yang terbaik adalah diberikan kamar khusus).
- Mempersiapkan anak dan mendidik anak untuk meng-hadapi kondisi yang terjadi padanya, dengan mainan atau cerita-cerita teladan.
Ucapkan …….. Dan Jangan Ucapkan ……..
- Ucapkanlah ketika sedang marah, “Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala memberimu petunjuk.”
Jangan ucapkan, “Semoga Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala memberimu musibah.” Karena kemungkinan hal tersebut menjadi kenyataan. - Katakanlah ketika akan tidur, “Pendidikan apa yang telah aku berikan untuk anakku hari ini ?”
Jangan ucapkan, “Saya tidak mau bermain sia-sia bersama keluarga.” - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Jika engkau berbuat begini, maka aku akan mengajakmu ke tempat rekreasi atau ke kebun binatang atau aku beri hadiah.”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Jika engkau tidak mau melakukan ini maka aku akan memukulmu !” - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Seorang muslim yang beradab akan berbuat seperti ini agar masuk Surga.”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Siapa yang mengerjakan ini dan itu berarti dia ingin dipukul.” - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Anak yang baik mau mendengar ucapan ayahnya, saya akan memberimu uang sejumlah tertentu.”
Jangan ucapkan sambil mencela, “Engkau bego, tidak mau mendengar kata-kata.” - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Bagus, engkau telah berbuat sesuatu yang baik. Akan saya beritahukan perbuatanmu ini kepada para tamu.”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Hari ini akan saya katakan kepada para tamu bahwa kamu telah melakukan begini, dan akan saya beritahukan keburukanmu di ha-dapan mereka.” - Ucapkanlah ketika marah, “Hai Fulan, dengarkan kata-kata saya atau kamu tidak akan saya beri hadiah.”
Jangan ucapkan ketika marah, “Hai bego !” atau “Hai goblok !” dan sejenisnya. - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Barangsiapa mau mengerjakan ini niscaya akan saya beri hadiah, mainan atau saya ajak ke tempat rekreasi.”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Barangsiapa mengerjakan ini niscaya akan saya pukul, atau saya usir keluar rumah, atau saya sekap di kamar yang penuh tikus dan tinggal sendirian dalam kegelapan.” - Ucapkanlah ketika memberi motivasi, “Jika engkau tidak mau mengerjakan ini niscaya kamu tidak akan men-dapatkan hadiah pada minggu ini.”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Jika engkau tidak mau mengerjakan ini, akan saya ambil lagi hadiah yang telah saya berikan.” - Bacalah ketika hendak tidur, do’a-doa tidur seluruhnya (jika memungkinkan) bersamanya.
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Tidurlah hai Fulan, tidur !” - Ucapkanlah ketika ia sedang menangis sambil memberikan hal yang menyenangkan untuknya, “Diamlah, akan saya berikan hadiah kepadamu.”
Jangan ucapkan sambil menakutinya, “Diam, atau kamu akan didatangi hantu atau ifrit atau … !” - Ucapkanlah: “Semoga Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala memberimu kebaikan.” atau “Terima kasih.”
Jangan ucapkan : “Mercy !” atau yang sejenisnya. - Ucapkanlah, “Assalamu ‘alaikum wahai Fulan !”
Jangan ucapkan, “Selamat pagi !” “Selamat siang !” atau yang sejenisnya. - Ucapkanlah, “Bersihkan kamarmu, pakaianmu atau tanganmu, sesungguhnya Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala itu indah dan menyukai keindahan.”
Jangan ucapkan, “Bersihkan ini dan itu hai jorok !” - Ucapkanlah ketika anak Anda mencela anak lain, “Jagalah mulutmu !” atau “Maafkanlah saudaramu !”
Jangan ucapkan, ”Hai kurang ajar !” Atau Anda katakan kepada yang dicelanya, “Balaslah sebagaimana ia mencelamu!” Akan tetapi ajarkanlah kepadanya untuk mengucapkan, “Semoga Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala memaafkanmu.” Agar ia mendapatkan kebaikan. - Ucapkanlah ketika ia menyakiti anak lain, “Kemarilah dan mintalah maaf kepadanya !”
Jangan ucapkan untuk anak Anda, “Anak tidak tahu adab !” atau yang lain. - Ucapkanlah ketika ia mengambil sesuatu yang bukan miliknya, “Ini bukan milikmu, kembalikan kepada yang punya !”
Jangan ucapkan sambil menghardik, “Hai maling, pencuri !” dan lainnya. - Ucapkanlah sambil merayunya, “Hai Fulan, tolong ambilkan air!” misalnya.
Jangan ucapkan, “Hai anak kecil, ambilkan ini !” Dengan intonasi perintah atau merendahkan. - Ucapkanlah ketika mengadu bahwa dia jatuh dan mendatangi Anda dengan menangis, “Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan. Segala puji bagi Allah Allah Subhannahu wa Ta’ala.”
Jangan ucapkan, “Rasakan !” Atau “Dasar cengeng !” - Ucapkanlah, “Pergi dan mainlah dengan teman-temanmu !” (Supaya dia merasakan pentingnya persahabatan dan persaudaraan).
Jangan ucapkan, “Pergilah dan mainlah dengan saudara-saudaramu saja!” (Agar dia tidak merasa rendah diri).
Metode Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah
oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman
Yang Benar dan yang Salah
- Benar : Anda kembali kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan berdoa kepada-Nya, memohon agar Dia senantiasa menolong Anda dalam mendidik anak-anak.
Salah : Mendoakan keburukan atas diri sendiri dan anak-anak Anda, karena bisa jadi doa itu akan terkabulkan. - Benar : Anda menyadari bahwa mendidik anak-anak hukumnya wajib, sehingga Anda bersedia mem-pergauli mereka dan menyediakan waktu khusus untuk mendidik mereka.
Salah : Tidak membantu isteri dalam mendidik anak. Anda menyerahkan pendidikan anak kepada ibunya saja, dan menyangka Anda telah menjalankan kewajiban dan menunaikan amanat. - Benar : Anda menanyakan kepada diri Anda setiap hari, kebaikan apa yang telah Anda berikan kepada mereka dan apa yang telah Anda ajarkan kepada mereka hari ini ?
Salah : Anda menjauh dari mereka dengan alasan pekerjaan duniawi, atau bahkan alasan kegiatan dakwah. - Benar : Anda jadikan saat-saat berkumpul dengan anak-anak Anda saat-saat yang menyenangkan, ter-buka dan dengan lapang dada.
Salah : Anda menutup diri dari mereka, tidak mendengar pendapat mereka dan tidak peduli dengan permasalahan mereka. - Benar : Anda senantiasa mematuhi program pendidikan untuk anak-anak Anda dan tidak meninggalkannya dengan alasan apapun.
Salah : Menghentikan pendidikan anak-anak atau melalaikan program pendidikan mereka karena suatu sebab yang sia-sia. - Benar : Anda menyadari bahwa perbaikan pendidikan anak-anak Anda merupakan langkah untuk mengembalikan kemuliaan Islam.
Salah : Anda mengira atau setan membisikkan kepada Anda bahwa pendidikan mereka tergantung pada kondisi dan waktu kosong Anda, sehingga Anda mendustakan diri Anda sendiri dalam perbuatan untuk mengembalikan kemuliaan Islam. - Benar : Anda menginginkan dari pernikahan dan kelahiran anak itu untuk pendidikan anak sehingga mereka menjadi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid dan sebagainya.
Salah : Anda melupakan tujuan pendidikan karena perjalanan waktu, sehingga Anda tidak lagi mengajarkan hal-hal yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak Anda, berikut sisi-sisi lain pendidikan seperti pendidikan akal, kejiwaan dan sebagainya yang seharusnya Anda ajarkan kepada mereka, untuk mengembalikan kejayaan Islam yang pernah ada pada masa lalu. - Benar : Anda selalu mengikuti perkembangan baru dalam pendidikan sebagai tambahan dari teori pendidikan dasar yang telah Anda ketahui.
Salah : Anda lalai dengan meninggalkan anak-anak Anda terdidik oleh layar televisi tanpa pengarahan sama sekali dari Anda. - Benar : Anda menjadi suri teladan yang baik dalam perbuatan dan ucapan Anda, yang akan ditiru oleh keluarga dan anak-anak Anda.
Salah : Anak-anak Anda melihat Anda berwajah dua, seakan mencampur madu dengan cuka, tanpa rasa bersalah kemudian Anda melarang mereka berbuat kesalahan. - Benar : Anda faham dan mengerti tabiat pada fase-fase umur anak dan tuntutan-tuntutan pada tiap fase untuk anak-anak Anda.
Salah : Anda menuntut anak agar berbuat seperti orang-orang bijaksana dan orang pandai tanpa mau mengerti tuntutan yang sesuai dengan umur mereka dan tidak memenuhi tuntutan-tuntutan itu baginya. - Benar : Anda mempergauli anak-anak Anda dengan sebaik-baiknya dan menghormati mereka seba-gaimana menghormati anak yang sudah besar.
Salah : Anda selalu menghindari mereka dan mereka selalu takut kepada Anda dikarenakan Anda meremehkan, mencela dan merendahkan mereka. - Benar : Anda sering-sering memotifasi, memberi sema-ngat dan memberi hadiah untuk mereka serta menggunakannya secara beragam.
Salah : Anda sering menghukum, khususnya hukuman fisik. - Benar : Anda mengoreksi anak-anak Anda (bila bersalah) secara khusus ketika sendiri dan memberitahu mereka dengan kebenaran yang ingin Anda sampaikan.
Salah : Anda mengkritiknya di depan anak yang lain terus menerus dan mencelanya. - Benar : Anda memuji anak di depan anak-anak yang lain karena kebaikan yang dikerjakannya, sebagai usaha untuk membuang perbuatan buruknya.
Salah : Anda selalu mengingatkannya atas kekurangan-kekurangannya, menyebutnya di depan anak-anak yang lain dan tidak pernah memujinya sama sekali. - Benar : Membiasakan anak-anak mengurus diri mereka sendiri, seperti pakaiannya, kamarnya, buku-bukunya, dan memujinya atas perbuatan itu.
Salah : Mengerjakan segala pekerjaan anak dan tidak membiasakannya berdikari. - Benar : Membiasakan anak selalu menjaga kebersihan, seperti kebersihan gigi, kebersihan kamarnya dan barang-barangnya.
Salah : Melalaikan kebersihan anak dan tidak mem-biasakannya untuk menjaga kebersihan apa yang menjadi miliknya. - Benar : Membuat suasana yang penuh dengan persaingan yang sehat antaranak untuk membangkitkan mereka.
Salah : Anda puas dengan tingkat kemahiran anak-anak tanpa berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka. - Benar : Meneliti kecenderungan dan cita-cita anak serta memberikan kesempatan baginya untuk menguatkan keinginan itu dan menumbuhkannya.
Salah : Lalai terhadap kemampuan anak dan berang-gapan bahwa mereka hanya bisa merusak, melawan, menangis dan sebagainya. - Benar : Menemani anak pergi ke Masjid dan tempat-tempat orang dewasa, khususnya orang yang mengerti dan memahami kehidupan anak-anak.
Salah : Menganggap bahwa anak itu ،¥kecil،¦ dan hanya menyibukkan orang tua, atau tidak pantas mengajaknya bertemu dengan orang-orang besar, meski hanya sebentar. - Benar : Memberi tempat khusus atau kamar bagi anak, di dalamnya diletakkan segala miliknya, kursinya dan piagam-piagamnya.
Salah : Tidak memberi tempat sama sekali bagi anak di rumah dan tidak membiasakannya menghormati aturan umum dalam rumah. - Benar : Menyediakan perpustakaan khusus bagi anak, diisi dengan kaset-kaset, buku-buku cerita, pemandangan, gambar-gambar, peralatan mewarnai dan lain sebagainya.
Salah : Meremehkan kemampuan seni dan keilmuan anak. - Benar : Mempergunakan berbagai sarana modern dalam pendidikan, seperti video, komputer dan alat perekam.
Salah : Hanya terbatas pada penggunaan buku-buku dan cerita-cerita secara lisan. - Benar : Membiasakan anak dua hal yang sunnah, yaitu salam dan minta izin ketika masuk dan keluar rumah.
Salah : Mengecilkan nilai sunnah-sunnah ini atas diri anak dan lalai untuk mengajarkannya kepada anak.Benar : Membiasakan anak untuk pamitan dengan baik dan gembira dalam menyambut kedatangannya, meski hal itu kadang membebani.
Salah : Menjadikan kepergian dan kedatangan anak hal yang biasa tanpa perasaan kasih sayang atau bahagia. - Benar : Bermain dengan anak dan bersikap kekanak-kanakan bersama mereka meski hanya sebentar saja.
Salah : Bersikap keras terhadap anak dan selalu menjauh darinya dengan alasan ingin istirahat dan tidur. - Benar : Membiasakan anak untuk mempergunakan ruqyah syar،¦iyahƒx ketika akan tidur, ketika sakit dan menghubungkan antara adanya kesembuhan itu karena Allah Subhannahu wa Ta’ala kemudian karena dokter.
Salah : Melalaikan anak dari perbuatan-perbuatan sunnah yang baik ini, dan membiarkan anak menganggap kesembuhan hanya karena dokter saja.
Sehari Dalam Kehidupan Anak Muslim
Bagaimana Sebaiknya Seorang Anak Mengisi Harinya ?
- Bangun tidur dan membaca doa.
- Mengucap salam kepada kedua orang tua, mencuci wajah dan ikut serta membereskan tempat tidurnya.
- Sarapan, meski hanya dengan segelas susu dan membaca doa makan.
- Pergi ke tempat belajar dengan membaca doa keluar dan masuk rumah.
- Makan siang dan tidur siang dengan membaca doa yang sesuai.
- Waktu khusus untuk main (bersama teman-temannya, saudara-saudaranya, ayah ibunya, dengan permainan bongkar pasang dan sebagainya).
- Waktu-waktu Kegiatan :
- Kegiatan Keilmuan
(Belajar, menghafal materi buku, cerita, mendengarkan kaset, mengadakan lomba keilmuan antara mereka, memutar video dengan acara yang baik dan bermanfaat, komputer, atari dan lain sebagainya). - Kegiatan Kesenian
(Menggambar, mewarnai, drama tentang cerita yang bermanfaat, merekam hafalannya dengan suaranya sendiri, seperti hafalan Al-Qur’an, hadits dan lain-lainnya, membuat hasta karya dari berbagai bentuk, guntingan kertas, menghias kamarnya atau miliknya sendiri). - Kegiatan Sosial
(Rekreasi atau pergi bersama kedua orang tua, mengunjungi sanak famili atau tetangga bersama orang tua). - Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan
(Mengadakan lomba olah raga antara anak-anak, mengadakan latihan-latihan ringan bagi mereka, check up secara rutin atas kesehatan anak-anak). - Kegiatan Fisik
(Menyuruhnya keluar untuk beberapa keperluan rumah).
- Kegiatan Keilmuan
- Metode Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman
Wahai Anakku, Cintailah Al-Qur’an!
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan. Read more…



